&
HIV/AIDS
Nama : Pondy Gunawan
NIM : 915060015
Kelas : A
Setelah mengikuti perkuliahan Kapita Selekta mengenai pembahasan “Komunikasi Kesehatan & Advokasi Media”, saya tertarik untuk membuat tulisan tentang “Media Massa & HIV/AIDS” karena masyarakat masih memiliki persepsi rendah mengenai dampak HIV/AIDS. Diperlukan upaya besar yang melibatkan media massa untuk memberikan informasi dan mengubah sikap serta perilaku masyarakat.
Apa yang terlintas dalam pikiran Anda bila mendengar HIV (Human Immunodeficiency Virus), virus yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh manusia? Seperti kebanyakan orang, pada awalnya pikiran saya langsung merespons: ‘mengerikan’ ‘menakutkan’ ‘jauh-jauh deh…’. Sekarang ini, setelah saya mengetahui cukup banyak tentang HIV/AIDS, ternyata virus itu masih menakutkan. Coba Anda bayangkan jika kita terinfeksi HIV ini, sistem kekebalan tubuh kita bisa berkurang, sehingga sangat mudah terserang penyakit dan menyebabkan kita berada dalam kondisi kronis. Penyakit seperti flu, diare, infeksi saluran pernapasan merupakan penyakit umum terjadi. Bila telah sampai pada stadium AIDS, dapat menjadi penyakit kronis bahkan dapat menyebabkan kematian. Ibarat sistem, kekebalan tubuh kita ini adalah tentara untuk menjaga stamina. Jika terkena HIV, tentara inilah yang diserang virus tersebut hingga jumlahnya makin lama makin menipis sehingga jika ada serangan “penyakit atau infeksi” kekebalan tubuh kita yang lemah akhirnya menyerah.
Jika mengetahui tentang HIV/AIDS, baik dari cara penularan dan pencegahannya, kita bisa sedikit lebih lega. Ternyata, tidak semudah itu HIV/AIDS bisa menular. Hanya ada 3 cairan tubuh yang bisa menularkan virus HIV, yaitu darah, cairan kelamin dan ASI. Penularannya memerlukan syarat adanya jalan keluar-masuk virus dan konsentrasi virus yang mencukupi untuk menularkan. Jadi, kita tidak akan tertular hanya dengan berdekatan, bersalaman, berpelukan atau bahkan berciuman dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
HIV/AIDS dapat dicegah dengan menjaga perilaku dan pola hidup, yaitu menerapkan prinsip
“ABCDE”
A = Abstinence tidak melakukan hubungan seks sama sekali

C = use Condom menggunakan kondom bila sulit untuk setia
HIV/AIDS lekat dengan mitos sehingga berakibat timbulnya diskriminasi bagi mereka yang terinfeksi oleh HIV (ODHA). Mitos tersebut antara lain HIV/AIDS adalah penyakit bagi mereka yang sering melakukan perilaku menyimpang, seperti kalangan pemakai narkoba, homoseksual, PSK (Pekerja Seks Komersial) dan pelanggannya. Perlu kita ingat lagi, HIV/AIDS itu bukanlah penyakit tapi suatu infeksi dari virus yang menyebabkan kekebalan tubuh berkurang sehingga penyakit mudah menyerang, bahkan bisa mencapai tingkat kronis yang bisa menyebabkan kematian. Jadi, AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena berkurangnya sistem kekebalan tubuh tersebut.
Liputan media massa khususnya radio, televisi dan jenis-jenis spesifik media cetak (tabloid) adalah cara yang ampuh dan hemat untuk mengkomunikasikan pesan-pesan pencegahan HIV/AIDS kepada khayalak yang beragam dan pada waktu yang ditentukan. Siaran radio mempunyai jangkauan yang luas, terutama di daerah pedesaan. Rata-rata orang mendengarkan radio selama kurang lebih 6 sampai 12 jam seminggu. Televisi pun menjangkau khalayak yang luas, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. Televisi memiliki tingkat penetrasi tertinggi di daerah perkotaan (82%), dibandingkan dengan radio (42%), majalah (31%) dan surat kabar (28%). Perkembangan siaran televisi di Indonesia meningkat dengan cepat dan saat ini terdapat 13 stasiun televisi nasional.
Program-progam media massa dapat memainkan peranan penting untuk menyoroti berbagai mitos mengenai HIV/AIDS yang sering kali menyulitkan terjadinya pengurangan perilaku berisiko tinggi. Mitos yang beredar sering kali mengatakan HIV/AIDS bukanlah ancaman bagi Indonesia dan antibiotika dapat mencegah atau mengobati infeksi HIV. Menentukan sasaran pendengar/penonton dan mengidentifikasikan bentuk media yang mereka sukai dapat membantu untuk memastikan bahwa pesan-pesan tentang HIV/AIDS dikomunikasikan dengan cara yang paling efektif. Namun, sekadar menyebarkan informasi tidaklah cukup. Kampanye media massa akan berjalan lebih efisien apabila didukung oleh program-program di tingkat lokal, yang turut menyediakan sarana pelatihan ketrampilan hidup dan kejuruan. Kampanye media massa yang mempromosikan penggunaan kondom akan lebih efektif bila didukung oleh peragaan dan sarana promosi di sentra penjualan. Dengan demikian, dampak pesan-pesan yang menggalakkan penggunaan kondom untuk perlindungan terhadap HIV/AIDS akan semakin kuat.
Inilah saatnya kita kembali berkaca, merefleksi perilaku kita masing-masing karena HIV/AIDS dapat menyerang siapa saja tanpa terkecuali. Mengingat penyebarannya tidak mudah, hal ini justru membantu kita untuk selalu berhati-hati dalam tiap perilaku dan tetap menjaga kesehatan kita dengan baik, selain terus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kita semua tentang masalah HIV/AIDS ini, sehingga kita tidak akan tergerus oleh sang virus.
AIDS bisa kita cegah bila kita mau peduli
TEPATI JANJI,, STOP AIDS!!








0 komentar:
Posting Komentar