Pages

Rabu, 21 April 2010

Psikologi Massa

PSIKOLOGI MASSA

Psikologi adalah ilmu tentang perilaku dan proses mental. Massa dapat diartikan sebagai bentuk kolektivisme (kebersamaan). Oleh karena itu psikologi massa akan berhubungan perilaku yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok massa. Fenomena kebersamaan ini diistilahkan pula sebagai Perilaku Kolektif (Collective Behavior).

Dalam perilaku kolektif, seseorang atau sekelompok orang ingin melakukan perubahan sosial dalam kelompoknya, institusinya, masyarakatnya. Tindakan kelompok ini ada yang diorganisir, dan ada juga tindakan yang tidak diorganisir. Tindakan yang terorganisir inilah yang kemudian banyak dikenal orang sebagai gerakan sosial (Social Movement). Perilaku kolektif yang berupa gerakan sosial seringkali muncul ketika dalam interaksi sosial itu terjadi situasi yang tidak terstruktur, ambigious (ketaksaan/ membingungkan), dan tidak stabil.

Reicher & Potter (1985) mengidentifikasi adanya 5 tipe kesalahan mendasar dalam psikologi tentang kerumunan (perilaku massa) di masa lalu dan masa kini, yaitu:

- abstraksi tentang episode kerumunan bersumber dari konflik antar-kelompok,

- kegagalan untuk menjelaskan proses dinamikanya,

- terlalu dibesar-besarkannya anonimitas keanggotaannya,

- kegagalan memahami motif anggota kerumunan,

- selalu menekankan pada aspek negatif dari kerumunan.

Reicher (1987), Reicher & Potter (1985) selama ini melihat adanya 2 bentuk bias dalam memandang teori kerumunan (crowds), yaitu bias politik dan bias perspektif. Bias politik terjadi karena teori kerumunan disusun sebagai usaha mempertahankan tatanan sosial dari mob dan tindakan kerumunan selalu dipandang sebagai konflik sosial. Sementara itu bias perspektif terjadi karena para ahli hanya berperan sebagai orang luar (outsider) yang hanya mengamati masalah tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam memandang tindakan kerumunan secara objektif.

KONDISI-KONDISI PEMBENTUK PERILAKU MASSA

Neil Smelser mengidentifikasi beberapa kondisi yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, diantaranya:

- Structural conduciveness: beberapa struktur sosial yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, seperti: pasar, tempat umum, tempat peribadatan, mall, dan lain-lain.

- Structural strain: munculnya ketegangan dalam masyarakat yang muncul secara tersturktur. Misalnya: antar pendukung kontestan pilkada.

- Generalized beliefs: share interpretation of event

- Precipitating factors: ada kejadian pemicu (triggering incidence). Misalnya: ada pencurian, ada kecelakaan.

- Mobilization for actions: adanya mobilisasi massa. Misalmya: aksi buruh, rapat umum suatu organisasi masyarakat.

- Failure of Social Control: akibat agen yang ditugaskan melakukan kontrol sosial tidak berjalan dengan baik.

MACAM-MACAM BENTUK PERILAKU KOLEKTIF

  1. CROWD (KERUMUNAN)

Secara deskriptif Milgram (1977) melihat kerumunan (crowd) sebagai:

  • Sekelompok orang yang membentuk agregasi (kumpulan).
  • Jumlahnya semakin lama semakin meningkat.
  • Orang-orang ini mulai membuat suatu bentuk baru (seperti lingkaran).
  • Memiliki distribusi diri yang bergabung pada suatu saat dan tempat tertentu dengan lingkaran (boundary) yang semakin jelas.
  • Titik pusatnya permeable dan saling mendekat.

Ada beberapa bentuk kerumunan (Crowd) yang ada dalam masyarakat:

  • Temporary Crowd: orang yang berada pada situasi saling berdekatan di suatu tempat dan pada situasi sesaat.
  • Casual Crowd: sekelompok orang yang berada di ujung jalan dan tidak memiliki maksud apa-apa.
  • Conventional Crowd: audience yang sedang mendengarkan ceramah.
  • Expressive Crowd: sekumpulan orang yang sedang nonton konser musik yang menari sambil sesekali ikut melantunkan lagu.
  • Acting Crowd/Rioting Crowd: sekelompok massa yang melakukan tindakan kekerasan.
  • Solidaristic Crowd: kesatuan massa yang munculnya karena didasari oleh kesamaan ideologi.

  1. MOB

Mob adalah kerumunanan (Crowds) yang emosional yang cenderung melakukan kekerasan/penyimpangan (violence) dan tindakan destruktif. Umumnya mereka melakukan tindakan melawan tatanan sosial yang ada secara langsung. Hal ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan, ketidakadilan, frustrasi, adanya perasaan dicederai oleh institusi yang telah mapan atau lebih tinggi. Bila mob ini dalam skala besar, maka bentuknya menjadi kerusuhan massa. Mereka melakukan pengrusakan fasilitas umum dan apapun yang dipandang menjadi sasaran kemarahanannya.

  1. PANIC

Panic adalah bentuk perilaku kolektif yang tindakannya merupakan reaksi terhadap ancaman yang muncul di dalam kelompok tersebut. Biasanya berhubungan dengan kejadian-kejadian bencana (disaster). Tindakan reaksi massa ini cenderung terjadi pada awal suatu kejadian, dan hal ini tidak terjadi ketika mereka mulai tenang. Bentuk lebih parah dari kejadian panik ini adalah Histeria Massa. Pada histeria massa ini terjadi kecemasan yang berlebihan dalam masyarakat. Misalnya: munculnya isue tsunami, banjir.

  1. RUMORSA

Rumorsa adalah suatu informasi yang tidak dapat dibuktikan, dan dikomunikasikan yang muncul dari satu orang kepada orang lain (isu sosial). Umumnya terjadi pada situasi dimana orang seringkali kekurangan informasi untuk membuat interpretasi yang lebih komprehensif. Media yang digunakan umumnya adalah telepon.

  1. OPINI PUBLICA

Opini Publica adalah sekelompok orang yang memiliki pendapat beda mengenai sesuatu hal dalam masyarakat. Dalam opini publik ini antara kelompok masyarakat terjadi perbedaan pandangan/perspektif. Konflik bisa sangat potensial terjadi pada masyarakat yang kurang memahami akan masalah yang menjadi interes dalam masayarakat tersebut. Contoh adalah adanya perbedaan pandangan antar masyarakat tentang hukuman mati, pemilu, penetapan undang-undang tertentu, dan sebagainya. Bentuknya biasanya berupa informasi yang beda, namun dalam kenyataannya bisa menjadi stimulator konflik dalam masyarakat.

  1. PROPAGANDA

Propaganda adalah informasi atau pandangan yang sengaja digunakan untuk menyampaikan atau membentuk opini publik. Biasanya diberikan oleh sekelompok orang, organisasi, atau masyarakat yang ingin tercapai tujuannya. Media komunikasi banyak digunakan untuk melalukan propaganda ini. Kadangkala juga berupa pertemuan kelompok (crowds). Penampilan dari public figure kadang kala menjadi senjata yang ampuh untuk melakukan proraganda ini.

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU MASSA DENGAN AGRESI

Banyak pandangan yang menyatakan bahwa perilaku kolektif berkatian erat dengan tindakan agresi/kekerasan. Bahkan sejumlah studi banyak dilakukan untuk melihat pengaruh berkumpulnya orang dalam massa terhadap kekerasan yang ditimbulkannya. Pendekatan keamanan selama ini juga selalu memandang bahwa adanya kumpulan orang selalu disikapi sebagai bentuk potensi konflik, dan kadangkala tindakan antisipasi yang dilakukannya sangat berlebihan. Ciri penting yang harus dipahami petugas apakah kumpulan dapat mengakibatkan potensi konflik adalah:

- Apakah terjadi kebangkitan emosi (arousal) massa yang sangat signifikan? Bila mereka sangat antusias dengan yel-yel dan gerakan yang menyinggung harga diri kelompok maka perlu dibutuhkan upaya kesabaran namun waspada.

- Apakah ada stimulator/pemicu dari lingkungan yang membahayakan? Alat agresi apakah muncul dalam kerumunan massa itu. Batu, pentungan, senjata tajam, dan sejenisnya, sangat mendorong munculnya kekerasan.

- Apakah ada provokator yang terorganisir? Provokator selalu menyemangati para anggota kelompoknya untuk tetap melakukan tindakan demonstrasi.

- Apakah situasinya panas atau hujan? Situasi panas dapat membuat situasi tidak nyaman, dan situasi ini dapat mudah menyulut kekerasan.

- Apakah munculnya sesaat atau bersifat kronis? Perilaku kolektif yang munculnya sesaat umumnya tidak menimbulkan agresi, terkecuali memang sudah ada konflik didalamnya.

- Adakah keberpihakan dalam perilaku kolektif? Konsep ini muncul dari adanya pemahaman bahwa bila ada 2 kelompok atau lebih yang sedang berkompetisi, maka mereka akan saling berusaha untuk mengalahkan yang lain.

- Adakah motif dasar yang melatarbelakangi munculnya perilaku kolektif? Perilaku kolektif akan menjadi sangat berbahaya apabila dalam kolektivitasnya itu dipicu oleh masalah kebutuhan pokok.

- Apakah ada organisasi yang mensponsori? Kekerasan akan semakin meningkat konstelasinya apabila ada dukungan sponsorship yang kuat, sehingga perilaku kolektif ini akan berlangsung lama. Oleh karena itu, kesiapan logistik yang cukup harus dilakukan dan dicarinya upaya strategi yang tepat untuk mengatasinya.

TEORI-TEORI PERILAKU KOLEKTIF

Ada 4 teori yang seringkali digunakan untuk menjelaskan kejadian perilaku massa, yaitu:

- Social Contagion Theory: menyatakan bahwa orang akan mudah tertular perilaku orang lain dalam situasi sosial massa. Mereka melakukan tindakan meniru/imitasi.

- Emergence Norm Theory: menyatakan bahwa perilaku didasari oleh norma kelompok, maka dalam perilaku kelompok ada norma sosial mereka yang akan ditonjolkannya. Bila norma ini dipandang sesuai dengan keyakinannya, dan berseberangan dengan nilai/norma aparat yang bertugas, maka konflik horizontal akan terjadi.

- Convergency Theory: menyatakan bahwa kerumunan massa akan terjadi pada suatu kejadian dimana ketika mereka berbagi (convergence) pemikiran dalam menginterpretasi suatu kejadian. Orang akan mengumpul bila mereka memiliki minat yang sama dan mereka akan terpanggil untuk berpartisipasi.

- Deindivuation Theory: menyatakan bahwa ketika orang dalam kerumunan, maka mereka akan ”menghilangkan” jati dirinya, dan kemudian menyatu ke dalam jiwa massa.

CARA MENYIKAPI PERILAKU MASSA

- Memahami bentuk perilaku kolektif.

- Memahami motif perilaku kolektif.

- Perencanaan penyelesaian yang matang.

- Kesiagaan mental.

- Pengendalian diri yang baik.

- Keberanian dalam bersikap.

KESIMPULAN

Pendekatan yang mana yang harus ditempuh, apakah pendekatan keamanan atau pendekatan humanisme? Paduan antara keduanya akan lebih tepat daripada hanya mengandalkan salah satunya. Karena sampai saat ini tidak satupun kerumunan dapat diprediksi apakah akan terjadi kerusuhan massa ataukah tetap damai. Oleh karena itu, peran analisis inteligen sangat dibutuhkan untuk pengambilan keputusan dalam melakukan tindakan terhadap perilaku massa ini.

Gender

GENDER

Istilah Gender pertama kali diperkenalkan oleh Robert Stoller (1968) untuk memisahkan pencirian manusia yang didasarkan pada pendefinisian yang bersifat sosial budaya dengan ciri-ciri fisik biologis.

Dalam ilmu sosial, orang yang sangat berjasa dalam mengembangkan istilah dan pengertian gender adalah Ann Oakley (1972) yang mengartikan gender sebagai konstruksi sosial atau atribut yang dikenakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia.

PERBEDAAN GENDER DAN SEKS

GENDER:

adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan hasil konstruksi sosial.

- “Buatan” manusia.

- Tidak bersifat kodrat.

- Dapat berubah.

- Dapat ditukar.

- Tergantung waktu dan budaya setempat.

SEKS:

adalah perbedaan organ biologis laki-laki dan perempuan, khususnya pada bagian reproduksi.

- Ciptaan Tuhan.

- Bersifat kodrat.

- Tidak dapat berubah.

- Tidak dapat ditukar.

- Berlaku sepanjang zaman & dimana saja.

PEMBEDAAN SIFAT, FUNGSI, RUANG & PERAN GENDER DALAM MASYARAKAT

SIFAT:

  • Laki-laki : Maskulin
  • Perempuan : Feminin

FUNGSI:

  • Laki-laki : Produksi
  • Perempuan : Reproduksi

RUANG LINGKUP:

  • Laki-laki : Publik
  • Perempuan : Domestik

TANGGUNG JAWAB:

  • Laki-laki : Nafkah utama
  • Perempuan : Nafkah tambahan

KESETARAAN & KEADILAN GENDER

Jumlah penduduk perempuan hampir setengah (49,9%) dari seluruh penduduk Indonesia dan merupakan potensi yang sangat besar dalam menunjang pembangunan.

Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan & keamanan nasional (hankamnas) serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.

Keadilan Gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.

Terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.

BENTUK-BENTUK KETIDAKADILAN GENDER

- MARGINALISASI (PEMINGGIRAN):

- Upah perempuan lebih kecil.

- Izin usaha perempuan harus diketahui ayah (jika masih lajang & suami jika sudah menikah).

- Permohonan kredit harus seizin suami.

- Pembatasan kesempatan di bidang pekerjaan terhadap perempuan.

Kemajuan teknologi industri meminggirkan peran serta perempuan.

- SUBORDINASI (PENOMORDUAAN):

- Perempuan sebagai “konco wingking” (orang belakang).

- Hak kawin perempuan dinomorduakan.

- Bagian waris perempuan lebih sedikit.

- Perempuan dinomorduakan dalam peluang di bidang politik dan jabatan.

- PELABELAN/CITRA BAKU/STEREOTYPE:

- Perempuan: sumur – dapur – kasur.

- Perempuan: macak – masak – manak.

- Laki-laki: tulang punggung keluarga.

- Laki-laki: kehebatannya dilekatkan pada kemampuan seksual dan karirnya.

- Laki-laki: mata keranjang.

- BEBAN GANDA/DOUBLE BURDEN:

- Perempuan bekerja di luar maupun di dalam rumah.

- Laki-laki bekerja masih harus siskamling.

- Perempuan sebagai perawat, pendidik anak sekaligus pendamping suami, pencari nafkah tambahan.

- Perempuan pencari nafkah utama sekaligus merawat anak.

- TINDAK KEKERASAN/VIOLENCE:

- Ekploitasi terhadap perempuan.

- Pelecehan seksual terhadap perempuan.

- Perkosaan.

- Laki-laki dan perempuan jadi obyek iklan.

- Laki-laki diharuskan/diharapkan sebagai pencari nafkah.

- Laki-laki bertubuh pendek dianggap kurang laki-laki, gagal di bidang karir, dilecehkan.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KESENJANGAN GENDER

- Nilai sosial dan budaya patriarkhi.

- Produk dan peraturan perundang-undangan yang masih bias gender.

- Pemahaman ajaran agama yang tidak komprehensif dan cenderung parsial.

- Kelemahan kurang percaya diri, tekad, dan inkonsistensi kaum perempuan sendiri dalam memperjuangkan nasibnya.

GENDER MAINSTREAMING (PENGARUSUTAMAAN GENDER)

Strategi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender adalah melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan, pengalaman perempuan & laki-laki ke dalam perencanaan, pemantauan, evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

KESIMPULAN

- Gender itu laki-laki dan perempuan.

- Proses penyadaran masyarakat tentang gender membutuhkan waktu yang panjang.

- Proses penyadaran gender harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.

- Laki-laki dan perempuan memang berbeda, tetapi tidak boleh dibeda-bedakan.